Perempuan Dalam Diri

Perempuan dalam diri sudah pasrah
Ditelan ‘keharusan’ yang tak terbantah
Perempuan dalam diri telah menyerah
Tak ada kata lagi untuk meyanggah
Perempuan dalam diri tinggal menerima
Takala hanya boleh mengatakan ya
Perempuan dalam diri tak bisa menolak
Karena sudah harus ikut kehendak
Perempuan dalam diri hanya bisa diam
Bersama mimpi-mimpinya yang terpendam
Perempuan dalam diri akhirnya tumbang 
Meninggalkan kebebasan yang dipaksa usang

 

Jakarta, 31 October 2015

Advertisements

Memasak

Sudah dua minggu ini saya sedang rajin memasak, tidak muluk-muluk hanya memasak makan malam berupa salad dengan rebusan kentang, membuat pasta dan yang terakhir menggoreng bakwan. Untuk saya ini merupakan lonjakan besar, sedikit berlebihan sih, tapi memang saya tidak memasukan list memasak sebagai suatu keharusan apalagi hanya sekedar sebagai hobi.

Alasan rajinnya saya memasak sekarang ini bukan hanya karena saya perempuan hingga berpikir diharuskan bisa memasak, bukan pula jika kelak saya menjadi istri harus bisa membuat makanan untuk suami, bukan pula jika nanti saya menjadi ibu karena saya memutuskan tidak memiliki keturunan, atau karena ego saya yang tersentil sebab lelaki yang sedang dekat dengan saya dia lebih pintar memasak.

Bukan, bukan itu semua….saya memasak karena sedang ingin memasak itu saja.
Berawal dari satu setengah bulan yang lalu saya membeli satu set kompor secara online, kompor listrik beserta penggorengan, panci, pengukus dan pemanggang sengaja saya siapkan jika saja lelaki yang pintar memasak itu akan datang berkunjung dan pastinya saya akan meminta dia memasakan untuk saya, namun sampai saat ini lelaki itu belum juga datang disebabkan jarak dua kota yang berjauhan atau mungkin memang belum diberi waktu untuk kita melepas rindu, maka diperawanilah kompor beserta peralatan masak tersebut oleh dua kawan saya yang datang menginap empat minggu yang lalu.

Jujur saja saya tidak tertarik berurusan dengan panasnya dapur, dimasa kecil tinggal di rumah petak berukuran 2x5m, dapur yang menyatu dengan kamar mandi yang terbuka tidak cukup menarik dan bukan tempat favorit untuk anak perempuan seperti saya. Saya lebih suka bermain air mungkin itu sebabnya dibanding memasak saya lebih suka mencuci.

Tapi anehnya saya selalu suka menyaksikan acara masak memasak di televisi, dari jaman RCTI masih menggunakan decoder, saya sering pergi ke rumah tetangga untuk numpang menonton acara ‘Wok With Yan’ yang dipandu koki bernama Stephen Yan, cara mengolah makanan dan bermain dengan peralatan masaknya serta kelucuan logat Cina Inggrisnya membuat saya tertawa, lalu acara lokal ‘Aroma’ di indosiar dengan backsound yang familiar didengar, dipandu oleh ibu Sisca Soewitomo, seperti sedang mendengarkan penyiar di stasiun radio Sonora dengan bahasanya yang sopan dan baku begitupun dengan bahasa yang dilontarkan ibu Sisca ketika memberi arahan membuat masakan, sekarang saya sudah jarang menonton televisi, namun jika sempat saya tetap tertarik melihat acara memasak siapapun kokinya dan akan menikmati sampai selesai.

Pengalaman didapur lebih banyak tidak menyenangkannya buat saya, sejak remaja sampai sekarang membantu ibu di dapur lebih sering berujung dengan percekcokan. Masakan ibu lezat tak ada bandingnya saya akui, tapi cara memasak ibu mulai dari persiapan sampai penyajiannya saya banyak tidak sejalan. Mungkin disebabkan perbedaan cara pandang akan dapur, banyak proses memasak yang tidak sesuai. Ibu termasuk orang yang tidak cukup rapih, termasuk dalam hal memasak, ‘hey masak tak selalu harus rapih!’ kata teman, tapi buat saya bentuk kerapihan membuat masak didapur lebih nyaman, mungkin juga saya selalu membandingkan cara masak beliau dengan cara masak ibu Sisca di televisi yang pasti terlihat lebih rapih dan teratur.

Sering saya membuat perjanjian dengan ibu, hanya akan menyiapkan semua bahan-bahan yang akan dimasak (kecuali segala sesuatu yang memiliki darah saya tidak akan pegang), saya akan atur semua bahan yang diperlukan, sehingga tidak ada lagi bahan-bahan yang tidak terpakai berceceran di meja dapur. Kebiasaan ibu jika memasak tanpa saya, semua bahan dikeluarkan entah itu diperlukan ataupun tidak sehingga kadang meja dapur penuh dengan semua bahan, sekaligus sampah potongan kulit sayuran, bawang dan plastik pembungkus yang sudah kosong. Bahkan ibu selalu meninggalkan dapur yang berantakan sehabis memasak, saya tidak betah sehingga berujung cekcok. Bapaklah yang akan datang sebagai penyelamat, beliau menjadi orang yg akan membersihkan semua yang berantakan didapur termasuk membersihkan kompor.

Perjanjian yang lain ya saya tidak mau berurusan dengan panasnya kompor, seringkali jika saya terpaksa menuruti karena situasi mendesak untuk merebus atau menggoreng maka berakhir saya tidak akan nafsu makan setelahnya, disebabkan rasa mual karena kenyang dengan bau-bauan yang merebak dari masakan diatas panci ataupun penggorengan. Ibu lebih takut saya tidak makan dibanding saya tidak memasak dan lagi jika saya memasak mungkin sehari saya akan mandi sampai empat kali karena tidak tahan dengan panas dan keringat yg mengucur disertai bau yang menempel di pakaian selama memasak.

Saya bukan pecinta kuliner mungkin itu sebab saya juga tidak hobi memasak. Memang saya pemilih makanan, saya tidak suka makanan laut meskipun saya suka bepergian ke laut, saya juga tidak begitu menyukai makanan bersantan kecuali Jangan Lombok (sayur cabe dengan irisan tempe) buatan simbah di gunung kidul. Gampangnya beri saja saya nasi hangat, tempe goreng dan sambel bawang ditambah kerupuk itu sudah nikmat, satu lagi makanan yang tidak bisa saya tolak adalah cemilan berupa gorengan, risol, tahu isi, pisang goreng beserta teman-temannya…its my guilty pleasure..

Dikarenakan tinggal sendiri sayapun tak selalu ambil pusing harus memasak atau tidak, untuk memudahkan diri saya selama ini sebelum ada kompor saya tinggal membeli buah atau roti untuk makan malam, karena makan siang dan sarapan saya lakukan di kantor. Namun kini sudah tersedia kompor daripada jadi karat karena lelaki itu tidak datang-datang dan mumpung saya sedang rajin maka memasaklah saya.

Seorang kawan pernah berkata ‘Memasak adalah salah satu bentuk perlawanan!’ kau bisa menjadi anarkis karena kau bisa membuat sendiri apa yang kamu butuhkan, meskipun saya tau di kota bernama Jakarta bisa saja untuk membeli bahan-bahan untuk memasak terpaksa kau harus membeli di supermarket karena pasar tradisional sudah tutup, pun tak ada lahan yang bisa kau pakai untuk menanam sayuran sendiri ( sambil berharap bisa membeli tanah di pulau lain dan mulai berkebun). Dan bagi saya dengan keyakinan penuh bahwa memasak suka ataupun tidak itu adalah pilihan, seperti juga pilihan belum ingin menikah dan pilihan tidak ingin memiliki anak.

Selamat makan!
tumblr_inline_o31cadnZCI1rywrqx_500

Gores Cerita

Bangunan itu berukuran sekitar 2m x 5m, bertingkat dengan tangga seadanya yang dibuat bersudut 90 derajat agar tidak memenuhi ruangan yang sudah terlihat sempit. Terdiri dari bagian depan yang berisi dua mesin jahit dan satu mesin obras, bagian belakang tersedia kamar mandi terbuka dengan pompa tangan merk dragon berwarna hijau tua, tak ada sekat sehingga menyatu dengan dapur,  ada kala saat saya mandi bersamaan ketika ibuk sedang memasak, kita bisa sambil mengobrol diikuti asap masakan yang memenuhi seluruh ruangan, sedangkan dibagian atas adalah ruangan tidur beralas kasur tipis berwarna orange. Dipinggiran dindingnya bapak membuat rak untuk buku dan pakaian.

10 tahun masa kecil saya habiskan disini, di kawasan elit di selatan Jakarta ini ada satu sudut dimana sederet rumah-rumah petak berdiri. Hanya ada satu gang sempit, orang luar mungkin tidak akan menyangka ada bangunan berderet berhimpitan di dalamnya.

Bagian depan rumah menghadap tembok tinggi dijeda sebuah jalan kecil yang cukup untuk berjalan kaki atau sepeda yang dituntun, seingat saya belum ada yang memiliki motor saat itu, sedangkan bagian belakang rumah menjorok ke sebuah kali, ada pintu dan tangga kayu yang lagi-lagi bersudut 90 derajat yang menghubungkan rumah dengan dasar kali. Tangga yang digunakan setiap saat untuk buang air besar atau menjemur pakaian.

Kita menyebutnya kali padahal sebenarnya adalah selokan besar tempat pembuangan dari rumah-rumah mewah disekitar kawasan itu. Saat hujan datang selokan itu akan penuh terisi air bewarna coklat berarus deras disertai sampah dengan kedalaman sekitar 2 meter, air yang mampu menghanyutkan anak sekecil saya, saat itu saya kadang berdiam diri di pintu belakang memandang arus air terus menerus sampai menunggu hujan berhenti.

Selokan besar itu akan berguna ketika tidak hujan, karena kedalaman air hanya menjadi sebatas mata kaki, direntangkanlah tali tambang dari ujung sebagai tempat kita menjemur pakaian, saat ibuk sedang menjemur saya sering ikut turun ke selokan untuk bermain air. Ada kalanya tiba-tiba air selokan menjadi berwarna merah atau hijau, ternyata saya baru tahu itu adalah sisa pembuangan dari sebuah perusahaan percetakan uang milik negara.

***

Saya lahir disebuah kota kecil di jawa tengah, belum genap dua tahun saya dibawa ibuk ke Jakarta untuk mengadu nasib,  Ibuk bercerita sebelum saya lahir dan tinggal dirumah ini, ibu, bapak dan kakak perempuan saya sudah pernah ke Jakarta sebelumnya, mengontrak rumah tak jauh dari sini, sebuah rumah petak dibelakang rumah wakil presiden dijaman orde baru, rumah tergusur bersamaan dengan kakak perempuan saya yang akhirnya dititipkan ke simbah dikampung. Kawasan itu sekarang menjadi distrik bisnis milik seorang taipan yang cukup terkenal akan kedekatannya dengan militer.

Suara mesin jahit terdengar hingga larut, ibuk harus segera menyelesaikan pakaian supaya lekas dibayar untuk biaya kehidupan sehari-hari, sedangkan bapak selain bekerja di sebuah anak perusahaan milik negara, menjelang subuh sudah harus menyiapkan beberapa bungkus penganan semacam gorengan atau nasi kuning untuk dijual dikantor sebagai tambahan uang sekolah saya dan kedua kakak saya.

Saya ingat sering dibawa ibuk ke pasar bendungan hilir, kadang untuk menjual kain atau hanya sekadar membutuhkan jasa tukang neci. Karena seringnya ikut kesana saya masih bisa merasakan saat harus menunggu bis yang penuh sesak, jika tidak mendapat tempat duduk seringkali penumpang lain menawarkan memberikan saya pangkuan supaya saya yang kecil ini tidak ikut berdiri berdesakan apalagi ibuk tidak bisa lagi menggendong saya karena bawaannya yang sudah cukup merepotkan.

***

Saya memiliki tiga sahabat dekat, dua lelaki dan satu perempuan, kedekatan terjadi karena kita seumuran, bersekolah ditempat yang sama bahkan seringkali satu kelas, bisa dibilang hampir setiap hari kita bermain bersama, bersama menjadi bagian anak pinggiran di sebuah sekolah negeri yang cukup bergengsi -dulu masuk sekolah negeri lebih bergengsi dibandingkan masuk sekolah swasta-. Berjalan kaki ke sekolah yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumah, melewati rimbun pepohonan kamboja dan flamboyan yang tumbuh di deretan pekarangan rumah mewah dan setiap saat kita berimajinasi ingin memiliki kolam renang sendiri seperti yang ada didalam rumah mewah itu.

Kala itu kolam renang kita hanyalah selokan besar dibelakang rumah dimana tempat kita mencari ikan cere, ikan sepat atau belut. Selokan dengan gorong-gorong nya yang sering dipakai para pemain kuda lumping beratraksi, biasanya sehabis memakan pecahan bohlam atau merobek kulit kelapa salah satu pemain akan berlari masuk ke gorong-gorong tepat berada dibawah sebuah warung makan untuk membuat takjub penonton termasuk saya. Berharap orang-orang akan menyiapkan uang lebih besar untuk atraksi tersebut.

Seiring waktu sekolah negeri itupun kini sudah tutup karena sudah kalah bersaing dengan sekolah lainnya, bersamaan dengan berkurangnya anak akibat penggusuran di perkampungan sekitar sekolah sehingga tidak lagi memiliki murid. Tiga tahun lalu saya bersama teman-teman menyempatkan napak tilas ke sekolah yang waktu itu masih bertahan dengan sedikit murid. Namun bangunan sekolah kini sudah berisi semak belukar, berdampingan dengan café-café kekinian disepanjang jalan yang cukup bergengsi itu, mungkin saja sudah dibeli sang taipan untuk dijadikan bangunan apartemen.

***

Siang jarang sekali saya berada dirumah, meskipun ibu seringkali memaksa saya untuk tidur siang. Selesai pulang sekolah selalu saja sudah ada rencana yang akan dimainkan bersama teman-teman. Tempatnya tak lain hanya di selokan belakang rumah, Selain selokan hanya ada lapangan kecil samping gang untuk bermain benteng dan galasin atau di jalan raya untuk bermain kasti semacam permainan baseball lokal, tapi memang tak lebih berpetualang dibanding selokan dimana kau bisa bermain air yang bau tentu saja, menemukan ikan cere yang berwarna warni, masuk gorong-gorong selokan serasa kau sedang menjelajah gua, menemukan mata air tempat kau bisa mandi bersama dan selokan yang pernah membuat kakak perempuan saya terjun bebas karena terpeleset dari tangga dan patah tangan.

Jika enggan bermain keluar, dirumah kecil itu saya lebih suka duduk diatas mesin jahit karena sempitnya ruangan, bermain bersama warna warni benang yang dikaitkan diatas paku-paku yang tersusun diatas kayu buatan ibuk. Rumah ini yang dirindukan dikala hujan, karena suara gaduh rintik hujan yang jatuh diatas atap seng terdengar menentramkan  dan membuat tidur saya lebih nyenyak, rumah pengingat dimana bapak selalu mengajarkan kedisplinan waktu yang terbentuk hingga saya dewasa, rumah dimana pertama kali kita punya televisi sendiri dan menonton film propaganda setiap tanggal 30 september yang mencekam itu, rumah dimana saya ikut membantu ibu menjual es teh dan es kacang hijau dengan plastik kecil, rumah dimana saya sering mengambil uang 25 rupiah dari kaleng bekas susu hasil penjualan es untuk membeli balon tiup, hingga akhirnya rumah kecil ini harus saya tinggalkan karena penggusuran.

Selepas pulang sekolah rumah kecil itu sudah rata dengan tanah, ibu memanggil saya untuk membantu mengumpulkan barang. Kala itu saya kelas 6 SD, Saya bersedih tapi tidak menangis, hanya menatap dan bertanya nanti saya akan tidur dimana, beruntung ternyata ibuk dan bapak ternyata sudah membeli rumah kecil yang lain diluar Jakarta dari hasil tabungan, tanah sendiri bukan menumpang seperti yang mereka bilang sehingga sah untuk digusur. Rumah lain itu masih dikontrakan ke orang, untuk itu sementara saya dan keluarga mengungsi dulu di gedung serba guna di ujung gang, berkumpul bersama para tetangga ditengah barang-barang rumah tangga yang bertumpuk. Saya tidak bersedih, saya sangat bahagia karena bisa tidur bareng bersama teman-teman.

Mengungsi hampir satu bulan hingga saatnya saya pindah kerumah baru dan harus berpisah dengan para sahabat.

***

Saya bahagia, ya teramat bahagia sampai beberapa belas tahun kemudian ketika saya melewati jalan itu lagi saya menangis , ya saya baru bisa menangis karena rasa rindu masa kecil disini, menjadi bahagia meskipun hidup seadanya. Selokan besar itu masih tetap ada namun lapangan bermain itu kini sudah menjadi rumah dinas pejabat. Sedangkan jalan raya yang dulu sepi kini sudah penuh lalu lalang kendaraan.

Meskipun diantara sejuta kenangan bahagia itu pula ada serpihan kecil mimpi buruk, mimpi buruk yang saya simpan sendiri selama 25 tahun, bayang-bayang tangan besar menggerayang itu menghantui. Disinilah mimpi buruk itu saya terima dan menjadi bagian kecil cerita hidup ketika seharusnya saya bahagia seutuhnya.

Mimpi buruk yang menjadikan diri saya sebagai anak pendendam dan pemarah, mimpi buruk yang membuat saya berpikir kenapa tidak terlahir sebagai anak laki-laki agar tak tersentuh –kini saya tahu menjadi anak kecil laki-laki atau perempuan akan selalu berada di posisi yang lemah- , mimpi buruk yang membuat saya sempat berkeinginan menjadi biarawati hanya karena tak ingin disentuh laki-laki –ternyata saya tahu juga di lingkup inipun tidak menjamin dirimu aman-
Mimpi buruk yang terus menghantui dan masuk ke  alam bawah sadar selama puluhan tahun yang membuat saya skeptis terhadap laki-laki.

Sampai akhirnya tiga tahun belakangan ini saya banyak bertemu teman-teman yang memberikan kekuatan untuk terbuka bercerita dan mulai bisa melepaskan sedikit demi sedikit mimpi buruk itu, Hingga akhirnya saya sadari sekarang,

Saya hanya ingin menjadi ‘Perempuan yang Bahagia’.

Jakarta, 12 November 2015

Reason To Rise – Andi Gunawan

Perempuan dalam tubuhku gemar sekali menonton televisi sepanjang hari sepanjang minggu sepanjang bulan sepanjang tahun yang melambat berkat drama akal-akalan tentang harga diri dan buramnya alat-alat kencing

Perempuan dalam tubuhku gemar sekali mengangkat tangan sampai dada sepanjang hari sepanjang minggu sepanjang bulan sepanjang tahun yang sepi mirip rapalan doa tersembunyi sebab amin sibuk membangun surganya sendiri

Perempuan dalam tubuhku gemar sekali duduk berlama-lama sepanjang hari sepanjang minggu sepanjang bulan sepanjang tahun yang tak ingin diulanginya sebab berdiri di atas kaki sendiri seringkali tak lebih dari sekadar keganjilan

Perempuan dalam tubuhku gemar sekali mengunci punggungnya sepanjang hari sepanjang minggu sepanjang bulan sepanjang tahun yang merunduk dan begitu ingin dipanen tapi mati mengering sebab paman petani hijrah ke kota besar

I am rising because women are not men’s attribute!

Andi Gunawan, Poet/Stand-up Comedian

tulisan diambil dari sini